FENOMENA AYAM KAMPUS Suatu Telaah Kritis Perspektif Antropologi

by arek_komunikasi at/on 02.24
in



LATAR BELAKANG
Kota Malang selain dikenal dengan kota pendidikan tetapi dikenal juga dengan kota yang mempunyai cuaca yang dingin, corak warna-warni kehidupanpun ada di kota tersebut. Mulai dari kehidupan yang sederhana, sedang sampai kehidupan yang glamor pun ada.
Kota Malang tidak hanya terkenal dengan kota yang punya cuaca dingin saja tetapi ada sisi lain dari Kota Malang yang lebih menarik untuk diteliti dan lebih jadi bahan pembicaraan masyarakat luas. Yaitu Kota Malang terkenal dengan Kota yang paling tinggi tingkat Prostitusinya atau lebih dikenal dengan label “Ayam Kampus” daripada kota-kota besar lainnya seperti: Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan kota-koya besar lainnya.
“Ayam kampus” sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Kota Malang apalagi dikalangan mahasiswa. Sebenarnya mereka adalah generasi muda bangsa dan mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan seharusnya mereka mengaplikasikan dengan baik di masyarakat dengan memberi contoh yang seharusnya patut ditiru oleh masyarakat luas.
Tetapi apa yang dilakukan mereka semua mempunyai alasan-alasan tersendiri. Mengapa mereka harus melakukan dan menjadi seorang pramuwisma atau yang lebih dikenal dengan “Ayam Kampus”. Meskipun itu sulit diterima oleh akal pikiran masyarakat luas, tetapi itulah warna-warni kehidupan karena pada dasarnya tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi seorang pramuwisma atau “Ayam Kampus”.

PENGERTIAN AYAM KAMPUS
Sadar atau tidak sadar, kita generasi muda adalah tulang punggung bangsa tercinta kita ini kelak dengan adigium “jika dulu para pahlawan membela bangsa dengan bambu runcingnya, maka kita akan ‘mengangkat’ buku untuk membela negara”. Bangsa ini kaya akan sumber daya alam tetapi miskin sumber daya manusia yang ada. Maka dari sinilah dahulu timbul suatu gagasan untuk manyelenggarakan pendidikan yang dikemas dalam lembaga pendidikan yakni ‘sekolah’ dari tingkat lembaga pendidikan yang paling rendah yaitu TK sampai ke lembaga pendidikan yang berbentuk universitas.
Dunia pendidikan merupakan suatu gambaran dunia yang penuh dengan ilmu, melatih keterampilan, dan pengetahuan yang outputnya diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan perubahan zaman yang terus berkembang. Hal tersebut meyakinkan kita bahwa pendidikan itu penting, seolah-olah tidak ada lagi nilai tawar untuk satu kata yakni ‘pendidikan’. Akan tetapi kita tidak selamanya akan hidup dalam dunia ide, atu sudah saatnya Plato keluar dari ‘gua Platonya’, atau kita sadar bahwa kita ada dalam realita, yakni hitam putihnya kehidupan.
Beberapa waktu yang lalu ada seorang kawan yang berstatus sebagai mahasiswa disalah satu Perguruan Tinggi Swasta terkemuka di Kota Malang berbisik kepada salah satu temannya yang ternyata kru ‘AZAZ’ (majalah FH-UMM) bahwa dia melihat seorang mahasiswi yang tak lain adalah temamnya sendiri masuk ke dalam Hotel bersama seorang pria yang tak diketahui identitasnya dan mungkin dari cerita tersebut kita akan bertanya-tanya apa yang mereka lakukan dalam hotel? Ada adigium “ jika seorang wanita dan laki-laki hanya berdua saja dalam tempat yang sepi maka yang ketiga adalah setan....”.
Kita juga harus mengakui bahwasannya apa pun bisa terjadi karena kita hidup dalam ruang dan waktu, manusia bukan malaikat dan juga bukan setan, manusia tetaplah manusia sesuai kodratnya, yang artinya sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk itu ada dalam diri kita. Begitu juga dengan dunia pendidikan, tidak selalu seperti apa yang kita pikirkan bahwa dunia pendidikan itu kita hanya berbicara tentang sekolah, sekolah lagi, dan lagi-lagi sekolah. Akan tetapi, ada fenomena lain di dalamnya yakni prostitusi yang dilakukan oleh peserta didik (pelajar) dari suatu institusi pendidikan yang umumnya disebut “Ayam Kampus”.
Prostitusi dalam dunia pendidikan bukanlah menjadi hal yang baru, akan tetapi hal tersebut masih menjadi hal yang tabu karena praktek prostitusi tersebut masih tertutup atau terselubung, juga minim dari eksposes media massa, tidak vulgar seperti praktek prostitusi pada umumnya. Hal ini sangat memprihatinkan karena status mereka sebagai mahasiswa atau pelajar yang hanya dibebani tanggung jawab untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan ternyata harus dikotori dengan profesi lain yang dilakoni mereka. Apakah praktek prostitusi tersebut menjadi sebuah kebutuhan atau menjadi sebuah tuntunan bagi mereka?, apakah ada faktor-faktor lain dalam diri mereka sehinga mereka terjerumus dalam praktek prostitusi disamping status mereka sebagai pelajar?.
Prostitusi memang tak mengenal ruang dan waktu. Bisnis esek-esek ini sudah merambah ke segala penjuru, tak terkecuali di kalangan mahasiswi tertentu di sejumlah perguruan tinggi di Banten. Sebagian generasi intelek ini tak sedikit yang terjerumus ke dalam jaringan prostitusi terselubung.
Tak mudah mengungkap fenomena bisnis prostitusi di kalangan anak kampus. Jaringan mereka tertutup, hingga sulit bagi orang kebanyakan untuk mengetahuinya. Mahasiswi yang melakukan praktik bisnis syahwat ini tenar dengan sebutan Ayam Kampus.
CARA PARA AYAM KAMPUS MENJALANKAN PRAKTEK BISNIS SEKSUALNYA
Intelektual muda penjaja cinta yang biasa orang bilang adalah “ayam kampus” prakteknya sembunyi-sembunyi bahkan dikalangan mahasiswi pun berlangsung dengan rapi. Di kampus, mereka menjalankan aktivitas kuliahnya seperti biasa “bahkan pakaiannya terkesan alim, tetapi ada juga yang tidak sungkan menunjukkan jati diri. Banyak cara yang dilakukan oleh para ayam kampus untuk menjaring para lelaki hidung belang dan cara yang dilakukan itu mengutamakan keamanan dan kerahasiaan, semua itu dilkukan agar kedok mereka tetap terjaga, dan mereka tidak melakukan aksi dan transaksinya di kampus demi menjaga dedok mereka melainkan ada tempat-tempat lain sebagai tempat mereka bertransaksi dan melakukan praktek dengan konsumennya seperti halnya:
Tempat mereka biasa nongkrong
Erwin (salah satu tim pemburu berita) menyebutkan beberapa tempat mangkal para ayam kampus dalam menjalankan operasinya diantaranya adalah kawasan pusat perbelanjaan yang ada di sudut-sudut Kota, adapula di sebuah cafe yang berada di dekat kampus yang kerap kali dijadikan tempat mereka nongkrong, berinteraksi dan biasanya dari sekitar jam 3 atau jam 4 sore mereka berkumpul di cafe itu.
Berita tersebut juga dibenarkan oleh sejumlah mahasiswa perguruan tinggi swasta yang juga kerap nongkrong di lokasi dimana para “Ayam Kampus” sering nongkrong dan berinteraksi. Tetapi selain bertransaksi di pusat-pusat perbelanjaan dan di cafe-cafe mereka juga bertransaksi lewat SMS atau pun telpon. Selain lewat SMS dan telpon mereka juga memiliki teman di salah satu diskotik dan karaoke untuk meminta pelanggan atau pun konsumen.
Dari kalangan apa saja konsumen yang menggunakan jasanya.
Kalau ditanya dari kalangan apa saja konsumennya, konsumennya dari berbagai kalangan mulai dari anak SMU, mahasiswa sampai pada orang dewasa atau yang biasa mereka sebut “om-om”. Karena yang mereka cari tidak hanya kenikmatannya saja tetapi juga uang. Mareka juga memilih-milih konsumen. Contohnya Kembang (nama samaran) yang berhasil diwawancarai tim “AZAS”. Kembang mengungkapkan bahwa dia tidak suka bila konsumennya dari mahasiswa karena anak kuliahan banyak maunya dengan biaya yang sedikit dan mainnya di kosan. Anggie lebih suka dan tertarik dengan pria yang sudah dewasa atau yang sering mereka sebut “om-om” alasannya, uangnya banayak dan labih loyal sedangkan dengan mahasiswa dia tidak mau.
Tarif yang biasa mereka pasang
Tarif yang mereka pasang sangat berfariasai mulai dari Rp. 300 ribu hingga Rp. 700 ribu tergantung kondisi dan lamanya waktu booking tapi mungkin kalau si ceweknya kepepet bisa di nego sampai Rp. 200 ribu. Seperti pernyataan dari salah satu cewek yang berprofesi sebagai “Ayam Kampus”.
Mekar (nama samaran), “kalau aku tarifnya berfariasi” ungkap Mekar kepada kru “AZAS”. “ Dulu untuk short time tarifnya sebesar Rp. 200 ribu, tapi sekitar naik menjadi Rp. 400 ribu dan disini saya bedakan antara mahasiswa dan ‘om-om’. Untuk mahasiswa saya pasang tarif Rp. 700 ribu. Untuk long timenya, sedangkan untuk ‘om-om’ paling mahal sekitar 1 juta tetapi ada juga yang memberi uang Rp. 1-2 juta untuk long timenya”. Ungkap cewek yang berhasil diwawancarai kru “AZAS”.
Tempat mereka biasa melakukan prakteknya
Banyak dan beragam tempat yang digunakan untuk praktek tersebut. Mulai dari kamar hotel hingga ke lokasi kos-kosan, tergantung dari kesepakatan antara konsumen dengan para ayam kampus tersebut. Bila harganya cocok dan telah disepakati untuk melakukan praktek, kata Mekar (nama samaran) salah satu cewek yang berhasil diwawancarai kru “AZAS”.

FAKTOR PENYEBAB MAHASISWA MENJADI AYAM KAMPUS
Bukan tanpa sebab mereka menjadi seorang ayam kampus dan mengapa mereka memutuskan melakukan pekerjaan haram tersebut, tentu banyak faktor dan sebab mengapa mereka harus melakukannya diantaranya:
Ekonomi
Seperti Diah (nama samaran) salah satu mahasiswi semester 5 di sebuah PTS yang ada di Malang “saya terpaksa berprofesi sebagai pekerja sex dikarenakan tuntutan ekonomi yang pada kehidupan saat ini serba sulit dan untuk membantu orang tua dalam membiayai sekolah adik-adik saya” jelasnya kepada crew “AZAS”
Tapi faktor ekonomi ini tidak mutlak kemiskinan atau kesulitan-kesulitan ekonomi yang biasa kita kenal, tetap sebagian banyak bahwa faktor ekonominya adalah bahwa keinginan seseorang untuk menunjukkan sebuah prestise kekayaan agar merasa ingin dihormati dan dipandang oleh masyarakat sekitarnya.
Pengaruh dari teman dekat
Dalam hal apapun di dalam hidup ini sering kali terjadi dalm setiap tindakan hidup seseorang kerena pengaruh teman dan seoranag teman yang lebih dekat dari pihak lain. Peran teman begitu dominan sebagai tempat untuk mengadu apabila seseorang mengalami kesedihan dan kejenuhan, dan sering kali teman sangat menentukan jalan hidup seseorang, dari situlah akhirnya seseorang yang sekarang terjerumus dalam perbuatan seperti itu yang lebih dikenal sebagai “Ayam Kampus”.
c. Pengaruh dari pacar
Seperti yang terjadi sama cewek yang bernama juliet (nama samaran) bahwa yang melatarbelakangi dia menjadi menekuni profesi sekarang karena kecintaannya pada sang kekasih untuk kata kasarnya sang kekasihlah yang penyebab dia melakukan ini semua. Waktu itu setelah sang kekasih mengambil semua miliknya yang berharga, dia selalu menghindar bila di ajak jalan atau sekedar di ajak ketemuan. Ungkap Juliet kepada “AZAZ”. Bahkan yang paling penyakit menyakitkan bagi Juliet, waktu itu sang kekasih kedapatan membawa seorang cewek lain kedalam kosannya, melihat itupun saya langsung berteriak dan meninggalkannya, jelas cewek berambut panjang ini. Akhirnya Juliet pun minta putus, dengan wajahnya yang cantik Juliet tidak kesulitan untuk mencari pengganti lelaki kurang ajar itu tetapi Juliet tidak pernah serius menjalani hubungan karena dia takut sakit hati lagi, dan bukan berarti juliet tidak pernah memberikan kenikmatan sesaat kepada pasangannya, juliet tatap memberikan “itu” kalau sudah basah biar basah sekalian karena kevirginannya sudah sangat murah harganya, “’jawabnya enteng”.
Dalam satu bulan dia bisa gonta-ganti cowok hingga tiga kali, lama-kelamaan Juliet bosan juga dengan kehidupannya yang suka gonta-ganti cowok tapi dia tidak mendapatkan hasil.”jenuh juga aku harus gonta-ganti pacar, ngasih kenikmatan sesaat, tetapi akunya tidak dapat apa-apa”, jelasnya kepada tim “AZAS”. Akhirnya dengan bantuan seorang kenalan dia putuskan untuk menjual kenikmatannya dan mulai menekuni profesi sebagai ayam kampus.
d. Tuntunan biologis
Ketika usia seseorang menginjak belasan tahun atau remaja, organ-organ reproduksi seseorang telah berkembang dan mulai bekerja ibarat listrik. Limbido sex mereka sudah mulai koneks, para remaja sudah mulai “bergetar” apabila berdekatan dengan lawan jenisnya dan inilah yang disebut pubertas. Pada masa ini para remaja akan mengalami sensasi sexual akibat perubahan mereka. Menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya yang berjudul Psikologi Perkembangan menjelaskan pubertas adalah periode perkembangan ketika anak-anak dari masa asekual menjadi seksual, dari penyebab itulah yang menyebabkan mereka terjerumus hingga sekarang ke dalam perbuatan haram tersebut. Seperti yang terjadi pada seorang cewek yang berusia 22 tahun dia mengungkapkan bahwa “yang terbesit dalam pikiran saya saat itu hanya rasa penasaran ingin mencoba melakukan ML (making love) bukan untuk menekuni profesi ini, tetapi pada akhirnya saya terjerumus hingga sekarang ke dalam dunia ini karena saya merasakan kenikmatan” ungkapnya.

Beberapa pandangan tentang “Ayam Kampus”
Mereka “Ayam Kampus” dihadapan Tuhan
Kalau kita melihat dari sudut pandang Agama sudah barang tentu pekerjaan mereka (pelacuran) adalah haram alias dilarang oleh agama, moralitas mereka sangat rendah di hadapan Tuhan bahkan lebih rendah daripada binatang.
Sebenarnya cukup kita gunakan logika hati, tak perlu menggunakan dalih agama pun, nurani manusia pasti tahu mana yang salah dan yang benar pelacuran sama dengan moral, apapun bentuknya siapapun pelakunya bahwa pelacuran atau sex bebas adalah tindakan iblis layaknya binatang yang jelas kita lihat nanti wajah dan muka kita pada saat berjalan dihadapan Tuhan.
Tetapi pada dasarnya mereka tidak mempunyai cita-cita sebagi seorang pelacur atau “Ayam Kampus” bahkan mereka yang sudah menjadi Ayam Kampus pun kadang sesekali mungkin pernah berfikir betapa kotornya dia dihadap Tuhan, tetapi mereka juga berfikir apakah di dunia ini takdir itu Tuhan yang menentukan dan mungkin hal inilah yang ada dalam pikiran mereka, bahwa Tuhan lah yang memberikan jalan seperti itu kepada mereka.
Namun perlu diingat bahwa Tuhan tidak akan pernah mengubah nasib manusia kecuali manusia itu sendiri yang mengubahnya.
Pandangan masyrakat
Di mata masyarakat mereka “Ayam Kampus” tidak ubahnya binatang yang kotor bahkan melebihi binatang yang kotor sekalipun, mengapa tidak? Mereka menjual tubuhnya kepada siapapun yang mereka yang penting ada yang menggunakan jasanya. Dan pekerjaan itu adalah pekerjaan yang dilaknat oleh Tuhan, disamping itu mereka “Ayam Kampus” tergolong kelompok yang menyalahgunakan kepercayaan orang tua yang telah membiayai dan memberi kebebasan dalam menggapai jalan kehidupan yang lebih dewasa.
Namun ada juga masyarakat yang mempunyai persepsi dan asumsi yang lain terhadap mereka “Ayam Kampus” itu karena masyarakat mengerti terhadap keadaan mereka yang mungkin terdesak kebutuhan hidup terutama untuk biaya kuliah yang semakin hari semakin mahal.
Mereka di mata mahasiswa
Jika disinggung apakah ada yang mengetahui profesi yang mereka lakukan mungkin dari sekian banyak teman-teman mereka (Ayam Kampus) cuma sedikit yang tahu profesi mereka bahkan mungkin teman dekat mereka juga tidak tahu profesi yang mereka tekuni. Karena mungkin ayam-ayam kampus tersebut tidak ingin teman-temannya merubah penilaian terhadap mereka yang berprofesi sebagai ayam kampus dan mungkin sejauh ini orang-orang yang mengetahui perilaku atau profesi mereka hanya bisa memaklumi dan menganggap inilah realita kehidupan meskipun tidak semuanya yang mempunyai penilaian seperti itu.
Dan ketika ditanya apakah keluarga mereka tahu profesi mereka? Dengan kepala tertunduk Juliet (nama salah satu cewek yang berprofesi sebagai “Ayam Kampus”) menjelaskan bahwa hal ini sangat dirahasiakan dari keluarganya. “Lha keluarga saya termasuk keluarga yang taat beribadah” begitu kata cewek yang berhasil di wawancarai tim “AZAS”. Bahkan di rumahnya, di luar Pulau Jawa kakeknya termasuk pemuka agama di kota kelahirannya itu.

FENOMENA PROSTITUSI DARI PERSPEKTIF ANTROPOLOGI

Prostitusi merupakan suatu hal yang sudah biasa dikalangan anak muida atau mahasiswa di zaman sekarang, khususnya anak muda yang hidup di kota-kota besar seakan-akan sex adalah kebutuhan yang nomor dua setelah makan yang harus dipenuhi, ini tidak lepas dari pengaruh pergaulan bebas dan zaman yang semakin berkembang hidup semakin sulit dan melarat. Berangkat dari faktor itulah yang membuat mahasiswa memilih menjual kenikmatannya kepada laki-laki hidung belang atau dengan kata lain menjadi pebebisnis esek-esek atau lebih dikenal dikalang mahasiswa dengan label Ayam Kampus.
Menjajakan tubuh dijadikan alat sebagai sumber pendapatan untuk menyimbolkan diri mereka kepada tingkat kesejahteraan yang tiggi dan ingin dihormati oleh masyarakat disekitarnya, ini merupakan simbol bahwa manusia itu penuh dengan ke egoisan, seperti apa yang dikatakan oleh seorang pemikir antropologi yaitu mark hobbes, dia mengatakan bahwa kepentingan pribadi, keserakahan dan hasrat untuk memuupuk kekayaan secaa tidak terbatas memotifasi individu untuk menyimbolkan ke egoisan manusia.

PENUTUP
Mahasiswa yang telah mengenyam pendidikan tinggi selayaknya tidak sekedar masuk kuliah untuk ujian sebgai syarat kelulusan. Mereka, yang akan segera terjun ke masyarakat untuk menerapkan ilmu yang dimiliki, tentu diharapkan juga bisa mengembangkan diriagar dapat menjadi sarjana yang berkualitas, kreatif, kritis dan bertanggung jawab.
Sungguh sayang pada kenyataannya tidak semua kalangan pelajar itu dapat mengikuti transformasi ilmu yang ditanamkan secara positif, banyak diantara mereka yang justru terjebak obat-obatan terlarang hingga ke free sex, selain itu ada mahasiswi yang berprofesi sebagai wanita penghibur yang sering dikenal dengan sebutan “Ayam Kampus”. Banyak faktor yang membuat generasi muda terjebak kedalam lingkaran setan dan semoga saja para mahasiswi itu segera kembali menekuni bangku kuliah seutuhnya tanpa embel-embel sebagai “Ayam Kampus”.

SUMBER BACAAN

· FH UMM, AZAS. Edisi XIX/2007
· Habiburrahman. 2008. Ya Allah Aku Jatuh Cinta, Jakarta.
· http/www.google/ayamkampus.co.id


2 komentar:

K_nYuT gIrLs mengatakan...

SUKSES sama ayam kampusnya yach.......

kalau bida u terus melakukan penelitian tentang ne cz masih lumz banyak data-data yang belum u sertakan di makalah u ne.....

g' rugi dapat nila A dwehhhh......

cayoooo maju teruz anak Madura....

he.....he.....

SitaK mengatakan...

infonya bagus mas thanks

Posting Komentar


 
fineprint
(c) pemuda indonesia · Using Blogger · Theme by EvanEckard · Blogger Template by Blogger FAQs and Mobi123